Jumat, 09 April 2010

Mari BerwiraUsaha....

Mari BerwiraUsaha....

Modal awal yang paling diperlukan agar sukses menjadi seorang wirausaha adalah pemikiran yang cemerlang (kreativitas) dengan tekad yang kuat (motivasi) dalam menciptakan sesuatu yang fantastis. Dalam memulai suatu kegiatan wirausaha menyediakan modal termasuk langkah awal. Modal tersebut dapat berupa modal sendiri, bermitra, ataupun kredit dalam jangka waktu tertentu. Namun, jika tidak memiliki modal finansial, bagaimana menjalankan kegiatan wirausaha??? Nah, bagi seorang wirausaha sejati tidak mengenal kata ‘putus asa’. Seorang wirausaha yang tidak memiliki modal finansial, tentunya akan berpikir untuk dapat merekrut keuntungan meskipun tanpa modal finansial. Di sini perlu digarisbawahi, wirausaha tanpa modal bukanlah penipuan. Meskipun hal tersebut juga termasuk suatu kegiatan berwirausaha, tapi dalam hal ini adalah konteks seorang wirausaha sejatinya. Seorang wirausaha sejati tidak akan kehabisan ide cemerlang dalam kegiatannya. Tanpa modal tidak akan menyurutkan kinerjanya. Seorang wirausaha tanpa modal akan berupaya menjual jasa yang dapat dilakukannya. Misalnya, menjadi perantara yang menghubungkan transaksi antara pemilik produk dengan pembeli (customer). Tanpa modal, seorang wirausaha akan tetap mendapatkan keuntungan dengan persenan tertentu. Hal ini dapat dimulai dengan melakukan perjanjian dengan pemilik produk atau dapat pula perjanjian dengan pembeli yang menginginkan suatu produk. Di sini akan terlihat ciri khas seorang wirausaha dalam melihat peluang (memiliki ide orisinil atau mengembangkan ide yang sudah ada secara kreatif).

Kreativitas dan inovasi sangat penting dalam wirausaha. Hal ini karena dengan kreativitas dan inovasi akan membuka peluang terbesar bagi seorang wirausaha memperoleh keuntungan maksimal. Kreativitas merupakan suatu kemampuan (proses usaha) mewujudkan suatu ide ataupun gagasan baru. Kreativitas tidak hanya berupa sesuatu yang benar-benar baru, namun dapat pula berupa suatu ide mengembangkan sesuatu menjadi lebih fantastis dan menarik minat orang lain. Seorang kreatif dapat memfokuskan dan mendayagunakan kemampuan mereka dalam upaya memperoleh keuntungan. Berbagai gambaran seorang yang kreatif, seperti mengubah sebatang besi seharga Rp. 25.000,- menjadi sebuah sabit seharga Rp. 250.000,- atau bahkan menjadi jarum seharga Rp. 2..500.000,-. Masih banyak contoh kreativitas seorang wirausaha yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selain kreativitas, inovasi juga merupakan hal penting dalam berwirausaha. Inovasi adalah penemuan sesuatu yang baru dan belum pernah ada sebelumnya. Inovasi layaknya sebuah terobosan baru yang dapat menarik atau bahkan dapat menggemparkan minat seseorang. Inovasi dapat pula berupa hal yang tidak sepenuhnya 100% baru dan belum pernah ada sebelumnya, melainkan sebuah bentuk modifikasi ataupun pengembangan dari yang sudah ada. Modifikasi ini dilakukan dengan penambahan pernak-pernik dalam menampilkan kesan yang baru. Inovasi dapat pula berupa hasil pengumpulan beberapa ide yang kemudian dipilih yang berkualitas dan lebih baik. Hubungan kreativitas dan inovasi sangatlah erat. Inovasi hampir berdekatan pengertiannya dengan kreativitas. Namun, kedua hal tersebut memiliki makna yang berbeda. Ibarat kata, kreativitas sebagai otaknya dan inovasi sebagai tangannya. Kreativitas adalah usaha berpikir dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan suatu ide, sedangkan inovasi adalah proses mengubah ide tersebut menjadi kenyataan sehingga lebih menguntungkan.

Katanya, “roh” kewirausahaan sangat penting untuk disemai-tanamkan ke dalam setiap diri mahasiswa. Hal memang harus dilakukan mengingat mahasiswa sebagai salah satu calon atau bahkan telah menjadi seorang wirausaha. Penyemaian dan penanaman “roh” kewirausahaan ini sebagai bentuk motivator (kekuatan pendorong motivasi) bagi mahasiswa sebagai bekal dan penambah pengatahuan dalam berwirausaha. Ibarat seorang pekerja yang akan lebih giat bekerja jika didorong kemauan pekerja untuk bekerja lebih giat. Begitu pula dengan mahasiswa, kemauan mahasiswa pun harus terus dikempa agar menjadikan jiwa mahasiswa menjadi lebih kreatif dalam menyikapi dunia ke depannya. Seorang mahasiswa nantinya juga akan lulus dan “menghirup “ dunia luar (selain kampus) yang penuh dengan persaingan dan tantangan. Tak menutupi kemungkinan, bila nantinya ijazah akan teralihkan akibat kerasnya persaingan. Untuk menghadapi kemungkinan tersebut, maka sangat penyemaian dan penanaman “roh” kewirausahaan dilakukan lebih dini. Hal ini akan menggugah pikiran mahasiswa untuk mengenal dan mengetahui prinsip-prinsip dan kunci meraih keberhasilan melalui kewirausahaan. Selain itu, penyemaian dan penanaman ini akan menjadikan mahasiswa tidak mengenal putus asa dan terus berusaha dalam pergelutan sehari-hari. Prinsipnya “roh” kewirausahaan merupakan bentuk pembelajaran bagi mahasiwa untuk lebih kreatif dan mampu berinovasi ke depannya.

Sabtu, 03 April 2010

penentuan kerapatan dan bobot jenis

Kerapatan dan Bobot Jenis


Ahli farmasi seringkali menggunakan besaran pengukuran kerapatan dan bobot jenis apabila mengadakan perubahan massa dan volume. Kerapatan adalah turunan besaran yang menyangkut satuan massa dan volume. Batasanya adalah massa per satuan volume pada temperatur dan tekanan tertentu yang dinyatakan dalam system cgs dalam gram per sentimeter kubik (g/cm3) (Martin,1990).

Bila kerapatan benda lebih besar dari kerapatan air, maka benda tersebut akan tenggelam dalam air. Bila kerapatannya lebih kecil, maka benda akan mengapung. Benda yang mengapung, bagian volume sebuah benda yang tercelup dalam cairan manapun sama dengan rasio kerapatan benda-benda terhadap kerapatan cairan. Rasio kerapatan air dinamakan berat jenis zat itu (Mochtar,1990).

Bobot jenis suatu zat adalah perbandingan bobot zat terhadap air dengan volume yang sama ditimbang di udara pada suhu yang sama (Anonim,1979). Penetapan bobot jenis digunakan hanya untuk cairan dan kecuali dinyatakan lein didasarkan pada perbandingan bobot zat di udara pada suhu yang telah ditetapkan terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Bila pada suhu 25°C zat berbentuk padat, tetapkan bobot jenis pada suhu yang telah tertera pada masing-masing monografi dan mengacu pada air pada suhu 25°C. Bilangan bobot jenis merupakan bilangan perbandingan tanpa dimensi yang mengacu pada bobot jenis air pada 4°C (= 1000 g.m-1).

(Anonim,1995).

Berbeda dengan kerapatan, berat jenis adalah bilangan murni tanpa dimensi yang dapat diubah menjadi kerapatan dengan menggunakan rumus yang cocok. Bobot jenis didefinisikan sebagai perbandingan kerapatan dari suatu zat terhadap kerapatan air, harga kedua zat ditentukan pada temperatur yang sama, jika tidak dengan cara lain yang khusus (Martin,1990).

Bobot jenis relatif farmakope adalah bobot jenis yang mengacu pada ukuran berat dan merupakan perbandingan berat jenis serta bagian volume yang sama dan zat yang diteliti terhadap air, dimana keduanya diukur di udara pad suhu 20°C. Bobot jenis merupakan suatu karakteristik bahan yang penting, yang digunakan dalam pengujian. Identitas dan kemurnian bahan obat dan bahan pembantu, khususnya sifat cairan dan zat yang berjenis. Penentuan bobot jenis dilakukan dengan menggunakan piknometer, areameter, timbangan hidrostatik, dan cara nanometrik. Untuk bobot padat tidak homogen dan serbuk yang memiliki pori dan ruang rongga, bobot jenis tidak lagi terdefinisi secara jelas. Bobot jenis sejati adalah perbandingan dari massa dan volume bodi padat berupa pori dan tanpa ruang rongga. Sedangkan bobot jenis nyata, volume yang besar akibat adanya pori-pori, berat diperhitungkan (Voight,1984).

Kebanyakan zat padat dan cairan mengembang sedikit bila dipanaskan dan menyusut sedikit bila dipengaruhi penambahan tekanan eksternal. Perubahan dalam volume ini relatif kecil sehingga dapat dikatakan bahwa kerapatan kebanyakan zat padat dan cairan hampir tidak bergantung pada temperatur dan tekanan. Sebaliknya, kerapatan gas sangat bergantung pada tekanan dan temperatur sehingga harus dinyatakan bila memberikan kerapat gas (Mochtar,1990).



Sumber:

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Hal 767.

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Hal 1030.

Martin,A. 1990. Farmasi Fisik. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Hal 8 dan 10.

Mochtar. 1990. Farmasi Fisik Bagian Struktur Atom dan Molekul Zat Padat dan Mikromeretika. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Hal 36.

Voight, R. 1984. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Hal 65.


Macam Uji Karbohidrat

UJi Terhadap Karbohidrat

Uji Molisch
R: 10g α-naftol/100ml etilalkohol 95%
U: 2ml S + 2ml R+ 5ml H2SO4→Hijau (+)

Uji Antron
R: 0,2g antron/80ml asam sulfat P
U: 0,2ml S/krtas saring + 2ml R + asam astet glasial/asam sulfat P (susu)→Hijau (+)

Uji Benedict
R: 175g Kristal natrium sitrat&100g natrium karbonat anhidros/800ml air→+ 17,3g koper sulfat/100ml→e 1L
U: 5ml R + 8 tetes S → 3 menit Hijau (+)

Uji Barfoed
R: 13,3g Kristal koper asetat/200ml air→saring+ 1,9ml as.glasial
U: 3ml R+ 1ml S→ 1 menit Hijau (+)

Uji Fearon
R: -
U: 4ml S + 3-4 tetes metilamin HCl→didih 30 men + 4 tetes NaOH 20%→H (disk→Merah)

Uji Selliwanoff
R: 0,05g resorsini/100ml HCl
U: 3ml R + 3 tetes S → didih Hijau (+)

Uji Foulger
R: 2g stanno Cl dlm 49g urea/80ml H2SO4 40% (v/v)
U: 2ml S + 1ml HCl P + 1 R → panas Hijau (+)

Uji Fenilhidrazin
R: 2g Fenilhidrazin HCl/30ml air + 3g natrium asetat anhidrous
U: 2ml S + 5ml R → panas kristal dlm larutan→ mikroskopik Hijau (+)

Uji Iodin
R: 10g kalium iodida/1L air + 2,5g iodin
U: 3ml amilum 2 tetes air/HCl/NaOH + 1 tetes R→ panas-dingin Hijau (+)



Ket: S = Sampel
R = Reagen
U = Uji

Macam Uji Protein

Uji Molin

R : Merkuri dan ion merkuro yang dalam as nitrat as nitrit

Warna yg terbentuk : Garam merkuri dari tirosina yang termitrasi

R: 10 g merkuri+ 20 ml as nitrat p,bila telah melarut dan uap coklat hilang, kemudian ditambahkan 60 ml air kemudian disimpan

Larutan protein : albumin 1:5

U: 5 tetes reagen pada 3 ml larutan protein, dipanaskan campuran, jika reagen tll byk maka warna hilang pada pemanasan



Uji Hopkins Cole

R: R Hopkins Cole mengandung as glioksalat, larutan protein, H2SO4 p

U: Dalam 2 ml larutan protein ditambahkan dengan 2 ml reagen Hopkins Cole, kemudian perlahan ditambahkan 5ml H2SO4 melalui dinding tabung, amati warna yang terbentuk pada batas kedua cincin;jika perlu diputar perlahan sampai terbentuk cincin berwarna. (+) cincin berwarna




Uji Ninhidrin (Triketohidrindene hidrat)

R: Larutan ninhidrin 0,1%, larutan protein

U: Tambahkan 0,5 ml larutan ninhidrin 0,1% pada 3 ml larutan protein, kemudian dipanaskan hingga mendidih,ulangi dengan menggunakan glisina. (+) ungu




R: Reagen

U: Uji


Ekstraksi Bahan Alam

Indonesia... bumi hijau khatulistiwa...
Kaya akan keanekaragaman hayati...
Tak ayal jika potensi obat alaminya cukup handal...

Obat alami sudah dikenal dan digunakan di seluruh dunia sejak beribu tahun yang lalu. Di Indonesia, penggunaan obat alami yang lebih dikenal sebagai jamu, telah meluas sejak zaman nenek moyang hingga kini dan terus dilestarikan sebagai warisan budaya. Bahan baku obat alami ini, dapat berasal dari sumber daya alam biotik maupun abiotik. Sumber daya biotik meliputi jasad renik, flora dan fauna serta biota laut, sedangkan sumber daya abiotik meliputi sumber daya daratan, perairan dan angkasa dan mencakup kekayaan/ potensi yang ada di dalamnya.
Farmakognosi yang berasal dari bahasa Yunani, pharmakon yang artinya “obat” (ditulis tanda petik karena obat disini maksudnya adalah obat alam, bukan obat sintetis) dan gnosis yang artinya pengetahuan. Jadi, farmakognosi adalah pengetahuan tentang obat-obatan alamiah. Pada hakekatnya, para pengobat herbalis itulah yang nyata-nyata merupakan praktisi farmakognosi yang pertama.
Obat alami adalah sediaan obat, baik berupa obat tradisional fitofarmaka dan farmasetika. Obat alami dapat diolah menjadi simplisia, ekstrak, kelompok senyawa atau senyawa murni yang berasal dari alam. Bahan obat alami berasal dari produk alam, baik itu dari tumbuhan, hewan, maupun mineral.
Khasiat obat alami ini berdasarkan adanya senyawa kimia yang dikandungnya. Berkaitan dengan hal ini maka penetapan karakterisasi suatu simplisia dan ekstrak perlu dilakukan guna menjamin mutunya. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah pengujian kadar sari yang terkandung pada tanaman yang diuji, baik yang larut dalam air maupun etanol.
Salah satu pengujian yang dapat dilkukan dalam penentuan kadar dalam suatu tumbuhan menurut MMI adalah penetapan kadar sari dan penetapan kadar abu. Penetapan kadar sari ekstrak pada suatu tanaman dilakukan untuk mengetahui mutu dari ekstrak tanaman berkhasiat obat tersebut. Pengujian mutu ini sering pula dinamakan sebagai standarisasi mutu.

Ekstraksi adalah proses penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dari bagian tanaman obat, hewan, serta bahan alam lain dengan pelarut tertentu. Prinsip ekstraksi yaitu: pelarut organik akan menembus dinding sel, dimana zat aktif di dalam sel ditarik oleh cairan penyari sehingga terjadi kelarutan zat aktif dalam cairan penyari.
Dalam pengekstraksian suatu sampel, pelarut yang sering digunakan adalah alkohol atau etanol. Ekstraksi harus memperhatikan kepolaran dari zat aktif yang terkandungan dalam tumbuhan tersebut (Harborne, 1987). Prinsip umumnya dalam melakukan ektraksi adalah “like dissolve like”. Oleh karena itu pelarut nonpolar akan mengektraksi senyawa-senyawa nonpolar, dan senyawa polar akan terekrtaksi oleh pelarut polar. Mutu ekstrak dari suatu tumbuhan bisa berbeda-beda karena pengaruh metode ekstraksi dan pelarut yang digunakan sehigga perlu dilakukan standarisasi.
Salah satu metode ekstraksi yang sederhana adalah maserasi. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya. Prinsip kerjanya adalah larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.
Standarisasi sederhana senyawa bahan alam adalah dengan pengujian kadar sari pada ekstrak, yang meliputi penetapan kadar sari yang larut dalam air dan larut dalam etanol. Nilai kadar sari yang larut dalam air dan etanol menunjukkan kandungan zat berkhasiat yang terdapat pada ekstrak, semakin tinggi nilainya semakin tinggi pula zat berkhasiat yang dikandungnya sehingga, semakin bagus mutu ekstraks tumbuhan tersebut.

Kamis, 14 Januari 2010

Apa itu Sistem Otot


SYSTEMA MUSCULARE (Sistem Otot)

1. Definisi systema musculare

Ilmu yang mempelajari tentang otot dinamakan sebagai Myologia., Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yakni myos yang berarti otot (tikus) dan logos berarti ilmu. Selain itu, dikenal pula kata musculus yang berarti otot atau tikus kecil. Kemudian systema musculare didefinisikan sebagai suatu sistem dari otot.

Sebagian besar otot tubuh melekat pada kerangka, dapat bergerak secara aktif sehingga dapat menggerakkan bagian-bagian kerangka dalam suatu letak yang tertentu. Jadi otot kerangka merupakan sebuah alat yang menguasai gerak aktif dan memelihara sikap tubuh. Dalam keadaan istirahat, keadaannya tidak kendur sama sekali, tetapi mempunyai ketegangan sedikit yang disebut fonus. Ini pada masing-masing orang berlainan bergantung pada umur, jenis kelamin, dan keadaan tubuh. Adapun bagian-bagian dari otot yaitu : kepala otot (muskulus kaput), empal otot (muskulus venter), dan ekor otot (muskulus kaudal).

2. Susunan histologis otot

Jaringan otot terutama terdiri atas sel khusus yang dapat memendek dengan berkontraksi. Kontraksi ini menghasilkan gerakan. Dengan cara inilah sebenarnya semua gerakan di dalam tubuh, atau dari tubuh ke lingkungan, akhirnya dihasilkan. Jaringan otot pada dasarnya disusun oleh sel yang disebut miosit yang memanjang ke satu arah, sehingga sering disebut serat otot.

Serabut penyusun berbagai jenis otot tidak dikelompokkan secara acak, tetapi terakit menjadi berkas-berkas yang rapi. Gabungan dari berkas otot ini disebut musculus, yang dari luar dibungkus oleh jaringan ikat kolagen padat. Bungkus/selubung otot ini dibedakan menjadi epimysium, perimysium dan endomysium.

Epimysium merupakan bungkus terluar musculus. Pada makroanatomi bungkus ini menjadi fascia profunda. Perimysium merupakan percabangan epimysiumm berupa sekat-sekat yang membungkus kesatuan otot yang lebih kecil (fasciculus muscularis). Dan endomysium merupakan percangan perymisum yang menyelubungi berkas otot yang lebih kecil lagi yaitu myofibra.

Sel otot memiliki ciri khas yakni mengadakan kontraksi. Kontraksi ini menghasilkan gerakan. Dengan cara inilah sebenarnya semua gerakan di dalam tubuh, atau dari tubuh terhadap lingkungan. Hampir seluruh sitoplasmanya mengandung bahan-bahan kontraktil. Untuk mendapatkan hasil kontraksi yang maksimal, sel otot mempunyai bentuk yang efektif ialah bentuk panjang, pipih dan bahan-bahan kontraksi mengumpul pada kedua ujung sel otot tersebut. Karena bentuk sel otot yang demikian itu, maka sel otot disebut juga serabut otot.

Pada jaringan otot, sel-sel atau serat-serat otot itu biasanya tergabung dalam berkas-berkas, sehingga jaringan otot tidak hanya terdiri atas serat-serat otot saja. Untuk melakukan kerja mekanis, serat-serat otot memerlukan banyak kapiler (pembuluh) darah yang mendatangkan sari makanan dari oksigen, dan mengangkut produk sisa yang toksik. Pembuluh-pembuluh darah itu terdapat dalam jaringan ikat fibrosa, yang juga berguna untuk mengikat serat-serat otot menjadi satu dan sebagai pembungkus pelindung sehingga tarikannya berlangsung efektif. Juga saraf-saraf terdapat di dalam jaringan ikat tersebut.

Gambar 2.1. Struktur histologis jaringan otot

3. Macam-Macam Otot

Secara fungsional ada otot yang di bawah kemauan kita (otot volunter) dan ada yang tidak di bawak kemauan kita (otot involunter). Ada tiga macam otot yang digolongkan berdasarkan struktur dan fungsinya. Gurat-gurat melintang yang teratur sepanjang serat terdapat pada otot lurik dan tidak terdapat pada otot polos.

Ketiga otot tersebut antara lain :

  1. serabut otot bergaris (myocytusstriatrus/skeletalis/serat lintang/voluntary/ somatic)
  2. serabut otot polos (myocytus non struatus/involuntary/visceral), dan
  3. serabut otot jantung (myocytus cardiacus).

a. Otot Bergaris (Myocytus Skeletalis/otot skelet/otot rangka/myocytus striatus)

Otot bergaris atau otot rangka, yang merupakan otot lurik, yang terikat pada tulang atau fasia dan membentuk daging dari anggota badan dan dinding tubuh. Bila diamati dengan mikroskop, maka serat otot rangka akan tampak bergurat melintang seperti garis sehingga dinamakan otot bergaris. Otot rangka dapat diperintahkan untuk berkontraksi (melakukan gerak yang diinginkan). Itulah sebabnya jenis otot ini disebut pula sebagai otot volunter.

Serabut-serabut otot bergaris mempunyai ciri-ciri yaitu sel berbentuk silindris dengan penampang 0,1 mm dan panjang bervaeiasi 1-40 mm, inti bentuk oval terletak di bagian tepi sel, satu sel mengandung banyak inti. Inti banyak tersebut disebabkan oleh persatuan mioblas (muscle sterm cell) embrionik berinti tunggal. Nukleus bujur telur biasanya ditemukan di bagian perifer sel, yaitu di bawah membran sel. Lokasi inti yang khas ini berguna dalam membedakan otot rangka dari otot jantung, dengan inti yang terletak di tengah.

Massa serabut yang menyusun berbagai jenis otot tidak dikelompokkan secara acak, tetapi tersusun dalam berkas-berkas yang teratur yang dikelilingi oleh sarung eksternal dari jaringan penyambung padat yang mengelilingi seluruh sel otot, dan disebut epimisium. Tiap serabut otot bergaris dibungkus oleh suatu selaput sel yang disebut sarcolemma. Meskipun sangat tipis, sarcolemma dapat dilihat dengan baik pada penampang melintang dengan pengecatan PAS. Sarcolemma berperan sebagai konduktor dalam menyalurkan impuls kontraksi.

Pada penampang memanjang serabut otot bergaris dapat dilihat pita-pita yang gelap dan terang yang saling bergantian. Pita-pita ini berjalan tegak memotong serabut-serabut. Apabila serabut terpotong miring,maka garis-garis melintang terlihat seperti bulan sabit atau seperti tumpukan uang logam. Pita-pita gelap disebut pita A (Anisotropik) dan pita-pita terang disebut pita I (Isotropik). Ditengah pita I terlihat gelap dan tipis disebut garis Z. Dan di tengah-tengah pita A terlihat garis terang dan agak lebar disebut pita H.

Pada pita A terdapat filamen tebal dan tipis saling menutupi (overlap). Sebagai akibatnya, penampang lintang di daerah ini memperlihatkan tiap filamen tebal yang dikelilingi oelh 6 filamen tipis dalam bentuk heksagonal. Filamen otot bergaris biasanya palimg sedikit mengandung 4 protein utama yaitu aktin, tropomiosin, troponin, dan miosin.

Serabut otot skelet mempunyai ciri-ciri, yaitu :

1. Panjang,

2. berinti banyak,

3. dipelihara oleh serabut saraf motorik,

4. gerakan terjadi secara sadar (bisa dikontrol),

5. kontraksinya lebih singkat dan cepat dibanding otot polos.

Dengan mikroskop elektron dapat dilihat bahwa serabut otot bergaris terdiri dari serabut-serabut otot yang disebut myofibril. Myofibril lebih mudah dilihat pada penampang melintang yaitu tampak sebagai bintik-bintik yang dipisahkan oleh sitoplasma yang tercat pucat. Sitoplasma ini disebut sacroplasma. Myofibril juga menyusun diri dalam kelompok-kelompok, sehingga seperti pulau-pulau atau lapangan-lapangan yang disebut pulau-pulau (lapangan) chonheim.

Sarcomere adalah bagian myofibril yang terletak di antara garis Z sampai garis Z berikutnya, panjangnya kira-kira 2-3 mm. Sarcomere adalah unit kontraktil otot bergaris.

Serabut otot bergaris dapat dikelompokkan menjadi tiga, jika dilihat dari jumlah myologinya, antara lain:

a. Red fibere

Memepunyai serabut-serabut otot dengan penampang kecil,sarcoplasmanya penuh dengan myoglobin dan banyak sitokrom (enzym-enzym respirasi) dan mitokondria.

b. White fibere

Memepunyai serabut-serabut otot dengan penampang yang lebih besar, sedikit myoglobin dan sedikit mitokondria.

c. Intermediate fibere

Terletak diantara red dan white fibere. Tetapi otot yang dibentuk dalam jumlah dominan oleh red fibere.

Bagian-bagian otot skelet antara lain, yaitu :

1. Origo (pangkal) : bagian otot yang diam sewaktu berkontraksi.

2. Caput (kepala otot) : bagian otot yang berdekatan dengan origo.

3. Venter (perut otot) : bagian pertengahan antara origo dan insertio.

4. Cauda (ekor otot) : bagian otot yang berdekatan dengan insertio.

5. Insertio (ujung) : bagian otot yang bergerak sewaktu berkontraksi.

Sifat serabut saraf yang menginervasi otot skelet, yaitu :

1. Motorik, yang berakhir di motor end plate dan berfungsi untuk memelihara kontraksi otot.

2. Sensorik, yang berakhir pada reseptor pada fasciculus dan berfungsi untuk memelihara reflex tonus.Distribusi otot ini dapat ditemukan pada otot-otot rangka tubuh, seperti musculus femuralis, musculus brachialis, musculus deltoid.

Fungsi otot skelet yaitu sebagai :

1. Otot penggerak utama adalah otot yang menghasilkan gerakan pada arah yang diinginkan).

2. Otot antagonis adalah otot yang menghaluskan atau mengendalikan kecepatan/kekuatan gerak. Letak otot antagonis di seberang otot penggerak utama..

3. Otot fiksasi adalah otot yang menstabilkan sendi, memelihara sikap dan posisi sendi (yang diinginkan).

4. Otot sinergis adalah bentuk khusus otot fiksasi yang melawan gerak sendi yang tidak diinginkan pada sikap otot penggerak utama.

Menggerakkan kerangka dan organ seperti bola mata dan lidah.


Gambar 2.2 Struktur Histologis Otot Rangka

b. Otot polos (myocytus non striatus)

Jenis otot kedua ini terutama berhubungan dengan visera. Otot ini terutama terdapat pada dinding visera yang berongga. Karena serat otot ini tidak tampak bergurat melintang maka disebut otot polos. Berkontraksinya otot ini tidak berdasarkan kemauan sehingga seringkali dinamakan otot involunter.

Serabut-serabut otot polos mempunyai ciri-ciri yaitu bentuk seperti kumparan (fusiform), panjang 29 mm sampai 0,2 mm (Gambar 15). Sitoplasma berwarna merah ungu pada pengecatan HE, dengan pengecatan Best Carmine dapat dilihat butir-butir glikogen pada sitoplasma. Inti terletak di bagian terlebar, di tengah dan biasanya mempunyai 1-2 anak inti.

Pada pewarnaan dengan IHAB (Iron Hemtoxylin Anilin Blue) tampak sel/serabut otot polos mempunyai myofilamen. Ada dua macam myofilamen yaitu : myofilamentum crassum (filamen tebal) terdiri dari protein miosin dan myofilamentum tenue (filamen tipis) terdiri dari aktin, tropomiosin dan troponin.

Karena sel-sel otot polos hampir sama bentuknya dengan fibroblast maka harus diamati dengan teliti, yaitu dengan melihat ciri-ciri sebagai berikut :

1. Pada pengecatan HE sitoplasma sel-sel otot polos lebih gelap

2. Pengecatan Mallory Anilin blue, serabut-serabut otot polos berwarna merah sedangkan serabut kolagen berwarna biru.

3. Inti sel otot polos lebih panjang tetapi lebih bulat dan kelihatan mengerut bila dibanding dengan inti fibroblast.

4. Dipelihara oleh serabut saraf otonom dan hormone tertentu.

5. Gerakan terjadi secara tidak sadar (tidak bias dikontrol).

6. Aksi otot ini mempunyai peranan yang amat penting dalam pengaturan fungsi sirkulasi, digesti, sekresi, dan ekskresi.

Distribusi otot polos dapat ditemukan pada organ-organ yang berbentuk pipa, misalnya berukuran terkecil pada dinding pembuluh darah, saluran pencernaan, saluran urinaria, saluran pernapasan, dan terbesar pada uterus wanita hamil.

Otot polos berfungsi mempertahankan tonus (ketegangan), misalnya dalam hal mempertahankan tekanan darah dan mengadakan kontraksi, supaya isinya tetap mengalir terus. Dengan ciri mampu melakukan kontraksi lebih lambat dan lama, tidak dapat dikendalikan menurut kehendak dan dipengaruhi oleh rangsang saraf, hormon atau perubahan lokal otot sendiri, misalnya refleks erectio.


Gambar 2.3 Struktur Histologis Otot Polos

c. Serabut-serabut otot jantung/ myocytus cardiacus

Selama perkembangannya, sel mesoderm splanknik dari tabung jantung primitif bersatu menjadi suatu susunan seperti rantai. Sel otot jantung tidak menjadi satu sebagai sel sinsitium seperti otot rangka, tetapi membentuk suatu hubungan kompleks di antara juluran-julurannya yang melebar. Sel-sel di dalam suatu rantai sering bercabang dua atau bercabang dan berikatan dengan sel-sel di dalam rantai yang berdekatan. Sebagai akibatnya, jantung terdiri dari berkas sel yang bersatu dengan erat, terjalin sedemikian rupa agar dapat melakukan suatu gelombang kontraksi yang khas dan menyebabkan ’pemerasan keluar’ isi jantung oleh otot ventrikel jantung.

Sel otot jantung matur memperlihatkan suatu pola bergaris melintang yang identik dengan pola otot rangka. Tetapi berbeda dengan sel otot rangka yang berinti banyak setiap sel hanya memiliki satu atau dua nukleus eukromatik yang terletak di daerah sentral. Kolom sel otot tersebut dikelilingi oleh suatu sarung lembut dari jaringan penyambung endomisium yang terdapat jala-jala kapiler.

Suatu sifat khas otot jantung adalah adanya garis-garis transversal yang berwarna gelap dan melintasi rangkaian sel jantung pada interval tidak teratur. Serabut-serabut otot jantung mempunyai ciri-ciri; sel berbentuk silinder. Sitoplasma lebih banyak dibanding otot striatus dengan ciri khas banyak mitokondria, banyak tubulus tranversus dan tidak dijumpai sisterna terminalis (dikenal dengan istilah dias). Inti ditengah-tengah berbentuk lonjong agak persegi, berwarna pucat. Fungsional dipengaruhi oleh saraf otonom. Sel-sel ini dihubungkan oleh hubungan khusus yang dinamakan discus intercalates.

Discus intercalatus ini merupakan junctional complex yang ditemukan pada permukaan bersama di antara miosit jantung yang berdekatan berupa garis-garis melintang yang arahnya tegak lurus terhadap serabut. Ada tiga junction khusus utama yang terdapat dalam discus tersebut yakni fascia adherens, macula adherens, dan gap juction.

Pada lapisan subendocardium dapat ditemukan serabut Purkinje atau myofibra conducens cardiaca, yang merupakan modifikasi serabut otot jantung. Dengan ciri sel berukuran lebih besar, sitoplasma lebih jernih dibanding sel otot jantung, mengandung lebih banyak granulum glycogeni, nucleus di pusat, myofibrilium ditepi dan lebar. Berfungsi sebagai pengantar rangsang dalam dinding jantung.



Gambar 2.3 Struktur Histologis Otot Jantung

Otot jantung berfungsi untuk kontraksi atrium dan ventrikel. Dimana dengan sistem hantar rangsang yang istimewa kontraksi atrium dan ventrikel ini berlangsung dalam urutan yang paling sesuai dengan fungsi pemompaan. Miosit yang diisolasi dapat berkontraksi secara spontan secara ritmik. Pada jantung, ritme berkontraksi ditentukan oleh ’pace maker’ yang terdapat di nodus sinoatrial. Dari sini rangsangan menyebar ke seluruh jantung melalui sistem konduksi terdiri atas serat jantung khusus. Dari hal ini jelaslah bahwa pasokan saraf tidak diperlukan untuk berkontraksinya otot jantung. Pengaruh saraf hanya mempengaruhi kekuatan dan kecepatan kontraksinya.

 

Nurul Pharmacy08 © 2008. Design By: fsrid vio